1/31/2013

PENETAPAN ANGKA ASAM DAN ANGKA PENYABUNAN


BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
                        Minyak dan sabun adalah dua buah zat yang sering kali kita temui di dalam kehidupan sehari – hari. Minyak biasanya digunakan oleh kita sebagai bahan untuk memasak dan sabun kita sering menggunakannya sebagai pembersih pakaian, badan dan lain – lain. Minyak dan sabun adalah dua buah benda yang jauh berbeda fungsi dan juga manfaatnya serta kandungan yang ada di dalamnya. Akan tetapi minyak dan sabun memiliki bahan baku yang sama, tetapi bahan campurannya berbeda bila minyak digunakan KOH sedangkan sabun mengunakan HCL. Dalam pembuatanya juga perlu kita ketahui kadar serta takaran atau berat bahan yang digunakan dalam pembuatanya. Dalam percobaan kali ini kita akan mencari penetapan angka asam dari minyak dan penetapan angka penyabunan yang terkandung dalam minyak dan sabun. Dimana angka asam adalah massa kalium hidroksida (KOH) dalam miligram yang dibutuhkan untuk menetralkan satu gram zat kimia. dan angka penyabunan adalah jumlah miligram kalium hidroksida yang diperlukan untuk penyabunan 1 gram lemak pada kondisi tertentu. Penetapan itu biasanya digunakan untuk memberikan standart pada suatu bahan makanan ataupun sabun yang beredar. 

I.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari melakukan percobaan atau kegiatan ini adalah sebagai berikut:

Ø                              Mengetahui cara penetapan angka asam.
Ø                              Mengetahui cara penetapan angka penyabunan (saponifikasi).

I.3 MANFAAT PERCOBAAN
Mempermudah praktikan untuk mengetahui metode analisis angka penyabunan (saponifikasi) dan analisis angka asam.

Ø                              Mengetahui cara – cara yang digunakan dalam penetapan angka asam
Ø                              Mengetahui cara – cara yang digunakan dalam penetapan angka penyabunan
Ø                              Kita dapat mengetahui cara-cara perhitungan nya.
Ø                              Kita dapat mengunakan alat – alat kimia yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1       Secara Umum
Asam nilai adalah massa kalium hidroksida (KOH) dalam miligram yang dibutuhkan untuk menetralkan satu gram zat kimia . Jumlah asam digunakan untuk mengukur jumlah yang hadir asam, misalnya dalam sampel biodiesel . Ini adalah jumlah dasar, dinyatakan dalam miligram kalium hidroksida, yang diperlukan untuk menetralkan asam konstituen dalam 1 g sampel.
Nilai asam biasanya digunakan dalam standart  pembuatan minyak dan mentega minyak adalah Minyak adalah istilah umum untuk semua cairan organik yang tidak larut/bercampur dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Ada sifat tambahan lain yaitu terasa licin apabila dipegang. Dalam arti sempit, kata 'minyak' biasanya mengacu ke minyak bumi  atau produk olahannya antara lain: minyak tanah (kerosena) untuk bahan bakar kompor. Namun demikian, kata ini sebenarnya berlaku luas, baik untuk minyak sebagai bagian dari menu makanan (misalnya minyak goreng), sebagai bahan bakar (misalnya minyak tanah), sebagai pelumas (misalnya minyak rem), sebagai medium pemindahan energi, maupun sebagai wangi-wangian (misalnya minyak nilam).
            Minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya yang polaritasnya sama. Minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol”. Jadi minyak juga merupakan senyawaan ester. Hasil hidrolisis minyak adalah asam karboksilat dan gliserol. Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.

Sedangkan untuk Mentega adalah ialah produk makanan susu, dibuat dengan mengaduk krim yang didapat dari susu. Biasanya digunakan sebagai olesan roti dan biskuit, sebagai perantara lemak di beberapa resep roti dan masakan, dan kadang-kadang bahan untuk menggoreng. Pengganti mentega ialah margarin, yang biasanya lebih murah, dan memiliki sedikit lemak dan kolesterol. Mentega hampir sama dengan roombutter tetapi roombutter adalah mentega yang wanginya tajam dan berwarna putih.

            Angka penyabunan atau Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah (misalnya NaOH). Sabun terutama mengandung c12 dan c16 selain itu juga mengandung asam karboksilat.
Dimana reaksi hidrolisis adalah Hidrolisis adalah reaksi kimia yang memecah molekul air (H2O) menjadi kation hidrogen (H+) dan anion hidroksida (OH) melalui suatu proses kimia. Proses ini biasanya digunakan untuk memecahpolimer tertentu, terutama yang dibuat melalui polimerisasi tumbuh bertahap (step-growth polimerization).
Sabun dapat dibuat melalui proses batchatau kontinu Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH) berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung garam, gliserol dan kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan. Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan direbus dengan air secukupnya untuk mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih lanjut, yaitu sebagai sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci, sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).
Pada proses kontinu, yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau minyak hidrolisis dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.
Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada umumnya hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH. Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH, KOH) mempunyai nilai pH antara 9,0 sampai 10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari alkali lemah (NH4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah yaitu 8,0 sampai 9,5.

Pada perkembangan selanjutnya bentuk sabun menjadi bermacam-macam, yaitu:

1.    Sabun cair
Ø     Dibuat dari minyak kelapa
Ø     Alkali yang digunakan KOH
Ø     Bentuk cair dan tidak mengental dalam suhu kamar

2.    Sabun lunak
Ø         Dibuat dari minyak kelapa, minyak kelapa sawit atau minyak tumbuhan yang tidak jernih
Ø         Alkali yang dipakai KOH
Ø         Bentuk pasta dan mudah larut dalam air



3.    Sabun keras
Ø   Dibuat dari lemak netral yang padat atau dari minyak yang dikeraskan dengan proses hidrogenasi
Ø   Alkali yang dipakai NaOH
Ø   Sukar larut dalam air

II.2. Sifat-Sifat Bahan

Ethanol
·                     Berbentuk cairan yang
·                     mudah terbakar  dan mudah menguap serta titik didih 78,4 0C
·                     Densitanya 0,789 gr/cm3,
·                     titik leleh 114,3 0C
·                      dapat larut sempurna dengan air.

KOH
·                     mudah larut dalam air.
·                     Kaustik
·                     Rasanya pahit
·                     Licin seperti sabun
·                     Nilai pH lebih dari 7
·                     Mengubah warna lakmus merah menjadi biru
·                     Dapat menghantarkan arus listrik




Asam Klorida
·         berbentuk cairan
·         tak berwarna sampai dengan kuning pucat
·         densitas 1,18 gr/cm3
·         titik lebur 27.32 0C (247 K)
·         titik didih 1100C
·         larut dalm air dengan sempurna.


Lemak
·         sulit larut dalam air hanya larut dalam pelarut organic seperti eter, chloroform, benzol, bersifat hydrophob.
[http://id.wikipedia.org/wiki/Lemak]

Minyak
·         Tidak larut dalam air
·         Larut dalam pelarut organic non polar misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya yang polaritasnya sama.



BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III. 1 BAHAN YANG DIGUNAKAN




a.         Minyak / lemak
b.        Alcohol 95 %
c.         KOH
d.        Indicator PP
e.         KOH alkoholis
f.         HCl 0,5 N



III. 2 ALAT YANG DIGUNAKAN



a.       Erlenmeyer
b.      Pendingin Tegak
c.       Buret
d.      Pemanas
e.       Pendingin balik

 PROSEDUR PERCOBAAN
Ø      PENETAPAN ANGKA ASAM
·         Timbang ± 20 gram lemak / minyak, masukkan kedalam Erlenmeyer dan tambahkan 50 cc alcohol 95 % netral.
·         Setelah itu sambung dengan pendingin tegak dan panaskan sampai mendidih, dan kocok kuat – kuat untuk melarutkan asam lemak bebasnya.
·         Setelah dingin, titrasi dengan larutan KOH 0,1 N dengan memakai indicator PP.
·         Akhir titrasi tercapai bila perubahan warna menjadi merah muda.

Ø      PENETAPAN ANGKA PENYABUNAN
·         Timbang lemak / minyak dengan teliti 3 gram.
·         Letakkan dalam Erlenmeyer 200 cc.
·         Kemudian tambahkan 50 cc larutan KOH alkoholis.
·         Setelah itu disambung dengan pendingin balik dan didihkan selama ± 30 menit.
·         Dinginkan dan titrasi dengan larutan HCl 0,5 N.
·         Kemudian lakukan pula terhadap blanko dengan prosedur yang sama.

1 komentar: